GlobalNewsNusantara.id
Banyak jalan yang di bangun di atas tanah lempung ekspansif mengalami penyusutan, keretakan memanjang akibat El Nino yang memicu kekeringan ekstrem dan suhu panas yang tinggi.

Hal ini terjadi di sejumlah daerah antara lain di Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, Bali,NTB,NTT, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan,dan papua bagian selatan.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut beberapa wilayah berpotensi mengalami dampak signifikan dari ElNino di perkirakan hingga oktober 2026.
Hasil pemantauan BMKG menunjukan El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen, sehingga berpotensi kekeringan di sejumlah wilayah di indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa.
Di kutib dari CNN Indonesia, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya mengatakan, “Fenomena ElNino merupakan fenomena iklim global yang mempengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk di indonesia. namun perlu di pahami bahwa ElNino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda” Ujar Teuku Faisal.
Adapun wilayah yang di sebutkan kepala BMKG Teuku Faisal Fathani adalah meliputi Sulawesi, Sumatera bagian selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara, Jawa, Bali dan Papua bagian Selatan, pada periode hingga oktober 2026 wilayah tersebut di perkirakan berada di bawah normal di bandingkan rata-rata klimatologis. “Yang perlu di waspadai bukan lamanya ElNino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit di bandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan. musim kemarau merupakan siklus tahunan sedangkan ElNino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kekeringan ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau” Kata Teuku Faisal Fathani.
Kondisi kekeringan akibat ElNino juga terjadi di Sulawesi tengah khususnya di Kabupaten Buol yang telah mengakibatkan penurunan debit air pada sumber mata air, kerusakan sejumlah infrastruktur jalan hingga keterbatasan beberapa komoditi kebutuhan masyarakat.
“Kesiapsiagaan harus di lakukan secara lintas sektor. resiko kekeringan kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara, hingga kesehatan masyarakat perlu di antisipasi sejak dini melalui koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan” papar Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani,Ph. D.,IPU.(Red)
Penulis : Heny
Editor : Redaksi
Sumber Berita: CCN INDONESIA








