Tolitoli, globalnewsnusantara.id — Keselamatan berlalu lintas di wilayah hukum Polres Tolitoli kembali menjadi perhatian. Dalam kurun waktu kurang dari empat bulan, tercatat 35 kasus kecelakaan lalu lintas (lakalantas) terjadi.
Dari jumlah tersebut, 9 orang meninggal dunia, 15 orang mengalami luka berat, dan 41 lainnya luka ringan. Data ini menunjukkan bahwa risiko di jalan raya masih tinggi dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Berdasarkan data yang dihimpun, Februari menjadi bulan dengan angka kecelakaan tertinggi, yakni 16 kasus. Disusul Maret dengan 8 kasus, Januari 6 kasus, dan April (hingga 15) sebanyak 5 kasus.
Selain itu, maraknya aktivitas balap liar di sejumlah titik di Tolitoli turut menjadi sorotan. Aktivitas ini dinilai sangat berbahaya dan berpotensi besar memicu kecelakaan, terutama pada malam hari.
Kasat Lantas Polres Tolitoli, IPTU Haris Nur Fahmi, menegaskan bahwa sebagian besar kecelakaan terjadi akibat kelalaian pengendara sendiri. Ia menyebut pelanggaran aturan lalu lintas, tidak menggunakan helm, serta berkendara dalam kondisi lelah sebagai faktor utama yang terus berulang di lapangan.
“Ini bukan lagi soal kurangnya imbauan, tapi soal kepatuhan. Kami melihat masih banyak pengendara yang mengabaikan keselamatan. Jika terus dibiarkan, risiko kecelakaan akan semakin tinggi,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa keselamatan di jalan bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan tanggung jawab bersama. Pengendara diminta untuk tidak menganggap remeh aturan, karena dampaknya bisa berujung fatal.
Selain korban jiwa, kerugian materiil akibat kecelakaan juga mencapai Rp108.900.000. Hal ini semakin memperkuat bahwa lakalantas membawa dampak luas, baik dari sisi keselamatan maupun ekonomi.
Pihak kepolisian pun mengingatkan masyarakat untuk lebih disiplin dan meningkatkan kewaspadaan saat berkendara. Kepatuhan terhadap aturan lalu lintas dinilai menjadi kunci utama dalam menekan angka kecelakaan dan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman di Tolitoli.
Penulis : DWI







