Minahasa – GlobalNewsNusantara.ID – Suasana haru di rumah duka keluarga Lapian–Sakul di Kelurahan Wewelen, Tondano, Kabupaten Minahasa, mendadak berubah menjadi kekacauan memilukan. Momen yang seharusnya dipenuhi kesedihan dan doa untuk almarhum, justru tercoreng oleh insiden kekerasan yang mengejutkan warga sekitar. Empat perempuan muda dilaporkan terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap seorang remaja putri berusia 16 tahun, yang membuat suasana duka berubah menjadi mimpi buruk.
Insiden memalukan ini terjadi pada Jumat malam (1 Agustus 2025), dan sontak menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial serta grup-grup percakapan warga Minahasa. Banyak yang tak menyangka bahwa tragedi bisa terjadi di tempat yang semestinya menjadi ruang refleksi dan penghormatan terakhir.
Beruntung, berkat gerak cepat Tim Resmob Polres Minahasa yang dipimpin oleh AIPDA Hendra Mandang, S.H., para terduga pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan berarti. Keempat perempuan tersebut langsung dibawa ke Mapolres Minahasa untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Diduga Dipicu Pengaruh Miras: Potret Gelap Remaja dalam Pusaran Kekerasan.
Dari informasi awal yang dihimpun, kuat dugaan bahwa perkelahian ini dipicu oleh pengaruh minuman keras. Saling ejek berujung emosi tak terkendali, hingga akhirnya berubah menjadi aksi pengeroyokan brutal terhadap korban yang masih di bawah umur.
“Situasi di lokasi sempat memanas. Namun kami bergerak cepat untuk mengamankan para terduga pelaku demi mencegah terjadinya hal-hal yang lebih buruk,” ungkap AIPDA Hendra Mandang kepada media.
Pihak keluarga korban yang menyaksikan langsung kejadian itu pun tak kuasa menahan tangis dan amarah. Beberapa anggota keluarga bahkan nyaris ikut terlibat dalam kekacauan yang berlangsung cepat dan emosional tersebut. Polres Minahasa: Tak Ada Toleransi untuk Kekerasan.
Kapolres Minahasa melalui Kasat Reskrim menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk kekerasan di ruang publik, terlebih dalam konteks sosial seperti rumah duka.
“Kami tegaskan, hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu. Apalagi ini menyangkut kekerasan terhadap anak di bawah umur. Semua akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya tegas.
Saat ini, para pelaku tengah menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik untuk mengetahui motif lengkap dan kronologi kejadian. Sementara korban telah dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan medis dan pendampingan psikologis. Pesan Moral: Saatnya Masyarakat Introspeksi.
Kejadian ini menyisakan luka dan pelajaran penting bagi semua pihak. Bahwa kekerasan bisa muncul di ruang dan waktu yang tak terduga, bahkan di tengah-tengah peristiwa sakral seperti kedukaan. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak, menjaga emosi, dan menjauhi konsumsi minuman keras yang kerap menjadi pemicu tindak kriminalitas. Ahli Sosial: “Ini Alarm Sosial yang Tak Boleh Diabaikan”
Sosiolog dari Universitas Negeri Manado, Dr. Grace Langi, M.Si., menilai peristiwa ini sebagai cerminan krisis moral yang semakin mengkhawatirkan di kalangan muda.
“Ketika rumah duka pun tidak lagi menjadi tempat sakral, maka kita sedang menghadapi darurat etika sosial. Ini bukan sekadar kasus kekerasan, ini tanda bahwa ada yang harus dibenahi secara sistemik: dari pendidikan karakter, kontrol sosial, hingga kebijakan terhadap miras,” tegasnya.(Kifli Abidjulu)








