DARI CENGKEH Jadilah PRESIDEN PRABOWO, DORA SIGAR Dan JEJAK SEJARAH Sulut, Akankah Gub Sulut YSK WUJUDKAN MONUMEN SEJARAH DAN TOKOH PENDIDIKAN SULUT?

Minggu, 11 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Zulkifli AbidjuluWartawan GlobalNewsNusantara.ID

MANADO, GlobalNewsNusantara.ID — Ada sebuah pertanyaan menarik yang layak direnungkan bersama: benarkah dari tanah pertanian cengkeh Sulawesi Utara, lahir jejak sejarah yang kemudian ikut mewarnai perjalanan bangsa Indonesia?

Ungkapan “dari cengkeh lahirlah Presiden Prabowo” tentu bukan dimaksudkan sebagai hubungan sebab-akibat secara langsung. Ini adalah sebuah refleksi tentang tanah Sulawesi Utara, khususnya Minahasa, yang sejak masa kolonial dikenal memiliki tradisi pertanian, perikanan, pendidikan dan keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Sulawesi Utara sejak dahulu dikenal sebagai daerah penghasil cengkeh, kopra, kopi dan pala serta Perikanan dengan laut yang sangat luas. Cengkeh menjadi salah satu komoditas yang sangat melekat dengan kehidupan masyarakat Sulut dari masa kolonial hingga Indonesia merdeka.

Namun sejarah Sulawesi Utara tidak hanya berbicara tentang hasil bumi. Di tanah ini juga tumbuh tradisi pendidikan yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Salah satu nama yang menarik perhatian dalam konteks sejarah nasional adalah Dora Marie Sigar, ibunda Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

 

Dora lahir di Manado dan menempuh pendidikan di Belanda, termasuk di Christelijk Hogere Burgerschool di Utrecht, kemudian mendalami bidang keperawatan. Riwayat pendidikannya menjadi salah satu bagian menarik dari sejarah hubungan Sulawesi Utara dengan tradisi pendidikan Eropa.

Dari sini muncul sebuah renungan: ketika seorang perempuan asal Manado menjadi bagian dari perjalanan keluarga seorang Presiden Republik Indonesia, apakah sejarah pendidikan dan tokoh-tokoh Sulawesi Utara layak mendapatkan ruang yang lebih besar dalam narasi sejarah nasional?

SAM RATULANGI, TOKOH PENDIDIKAN DAN PEMIKIR SULUT
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Sulawesi Utara telah melahirkan Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, atau yang lebih dikenal sebagai Sam Ratulangi.

Sam Ratulangi lahir di Tondano pada 5 November 1890. Ia memperoleh pendidikan di sekolah-sekolah pada masa kolonial dan kemudian melanjutkan pendidikan hingga Eropa. Perjalanan pendidikannya menunjukkan bagaimana akses terhadap ilmu pengetahuan dapat membentuk seorang tokoh yang kemudian memainkan peranan penting dalam perjuangan bangsa.

Sam Ratulangi bukan sekadar tokoh politik. Ia juga dikenal sebagai pemikir, pendidik dan pejuang yang meninggalkan warisan pemikiran bagi Indonesia.
MARIA WALANDA MARAMIS DAN PERJUANGAN PENDIDIKAN PEREMPUAN
Ada pula Maria Walanda Maramis, pahlawan nasional asal Minahasa yang perjuangannya sangat erat dengan pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

Maria lahir di Kema pada 1 Desember 1872 dan sejak kecil diasuh keluarganya di Airmadidi. Pada masa itu kesempatan pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas. Namun keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkah Maria untuk belajar dan kemudian memperjuangkan pendidikan perempuan.

Pada 8 Juli 1917, Maria bersama sejumlah tokoh perempuan mendirikan PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya). Organisasi tersebut kemudian berkembang dan memperjuangkan pendidikan serta keterampilan perempuan. PIKAT juga mendirikan sekolah yang memberikan bekal keterampilan kepada kaum perempuan.

Yang tidak kalah penting, Maria juga memperjuangkan hak perempuan untuk ikut dalam pemilihan anggota Minahasa Raad, dan perjuangan itu memperoleh hasil pada 1921 ketika perempuan diperbolehkan memberikan suara dalam pemilihan tersebut.
BUKAN SEKADAR MONUMEN, TETAPI PESAN SEJARAH
Karena itu, muncul sebuah gagasan yang layak menjadi perhatian bersama, khususnya Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK).

Mungkinkah Sulawesi Utara memiliki sebuah monumen sejarah pendidikan dan tokoh-tokoh Sulut yang tidak hanya berbentuk patung, tetapi menjadi ruang edukasi bagi generasi muda?

Monumen tersebut bisa mengangkat sejarah Dora Sigar, Sam Ratulangi, Maria Walanda Maramis, serta tokoh-tokoh Sulawesi Utara lainnya yang memiliki hubungan dengan pendidikan, perjuangan dan perjalanan bangsa.

Jika memungkinkan, monumen itu dapat dirancang sebagai Monumen Sejarah Pendidikan Sulawesi Utara—sebuah tempat yang menceritakan bagaimana anak-anak Sulut pada masa kolonial telah mengenal pendidikan, bagaimana perempuan memperjuangkan hak belajar, bagaimana tokoh-tokoh Sulut menempuh pendidikan hingga Eropa, dan bagaimana nilai-nilai tersebut kemudian ikut memberikan kontribusi bagi Indonesia.

Gagasan ini bukan untuk mengklaim bahwa Presiden Prabowo lahir karena cengkeh atau karena Sulawesi Utara semata. Tetapi ada sebuah benang merah sejarah yang menarik: tanah penghasil cengkeh ini juga memiliki tradisi pendidikan yang panjang dan melahirkan banyak tokoh penting.
PRESIDEN PRABOWO DAN SWASEMBADA PERTANIAN
Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kebijakan pemerintahannya juga menaruh perhatian besar terhadap swasembada pangan dan pertanian.

Maka, mengapa tidak menjadikan cengkeh sebagai salah satu simbol sejarah pertanian Sulawesi Utara?
Cengkeh, kopra, pala, kopi, perikanan dan berbagai hasil bumi lainnya merupakan bagian dari perjalanan ekonomi masyarakat Sulut.

Di sinilah sejarah dan masa depan dapat dipertemukan.
Pertanian tidak hanya menghasilkan komoditas. Pertanian juga melahirkan kehidupan, membentuk masyarakat, menghidupi keluarga dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah suatu daerah.
Karena itu, jika suatu hari Sulawesi Utara memiliki monumen yang menghubungkan sejarah pertanian, pendidikan dan tokoh-tokoh besar daerah, monumen tersebut bukan sekadar bangunan.

Ia bisa menjadi pesan kepada generasi muda bahwa Sulawesi Utara memiliki sejarah panjang tentang ilmu, kerja keras, pendidikan dan perjuangan.
Dan mungkin inilah saatnya sejarah itu tidak hanya diceritakan melalui tulisan, tetapi diabadikan dalam sebuah monumen yang dapat dilihat dan dipelajari oleh anak cucu.
Dari cengkeh kita belajar tentang tanah dan kehidupan.Dari pendidikan kita belajar tentang masa depan.Dari sejarah kita belajar tentang siapa kita.

Semoga gagasan ini menjadi perhatian bersama dan mendapat ruang untuk diwujudkan dengan cara yang paling tepat, bermartabat dan sesuai dengan fakta sejarah Sulawesi Utara.

Penulis: Zulkifli AbidjuluWartawan GlobalNewsNusantara.ID
WA/TLP(082188668770)

Berita Terkait

Plt Bupati Boltara dan Plt Kajati Sulut Perkuat Pengawasan Pembangunan Desa
RIO CAPELLA TURUN LANGSUNG! Hanura Sulut Digenjot Lolos Senayan, DPP Suntik Dukungan Dana Konsolidasi Ratusan Juta
Pemkab Boltara dan BPJS Kesehatan Bahas Tambahan 7.000 Peserta JKN
Pemkab Boltara dan PLN Matangkan Dukungan Kelistrikan untuk Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih
Kendalikan Harga Pangan, Pemkab Boltara Salurkan Ribuan Paket Sembako Bersubsidi
Pemkab Boltara Gelar Kurasi Produk UMKM Lokal, Buka Jalan Masuk Ritel Moderen
Polri Mutasi 199 Personel, Sejumlah Jabatan Strategis Berganti: Wakabaintelkam hingga Kapolda
Plt. Bupati Boltara Pimpin Rapat Perdana Penguatan Koordinasi Dunia Pendidikan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:50

Plt Bupati Boltara dan Plt Kajati Sulut Perkuat Pengawasan Pembangunan Desa

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:20

RIO CAPELLA TURUN LANGSUNG! Hanura Sulut Digenjot Lolos Senayan, DPP Suntik Dukungan Dana Konsolidasi Ratusan Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:38

Pemkab Boltara dan PLN Matangkan Dukungan Kelistrikan untuk Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:23

Kendalikan Harga Pangan, Pemkab Boltara Salurkan Ribuan Paket Sembako Bersubsidi

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:07

Pemkab Boltara Gelar Kurasi Produk UMKM Lokal, Buka Jalan Masuk Ritel Moderen

Berita Terbaru