Manado – GlobalNewsNusantara.ID – Di tengah era media digital yang serba cepat dan kompetitif, di mana opini bisa menyebar lebih cepat dari fakta, muncul sebuah peristiwa yang menyegarkan dan menyejukkan jagat pemberitaan nasional. Sebuah langkah langka, penuh integritas, dan sarat nilai moral terjadi di kota Manado—yang kini menjadi sorotan publik di seluruh Indonesia.
Pada hari Jumat, 1 Agustus 2025, suasana di lingkungan Pengadilan Negeri Manado sedikit berbeda dari biasanya. Seorang jurnalis dari media daring KosongsatuNews.com, Steven Septi Saroinsong, mendatangi kantor Pengadilan Negeri Manado dengan satu tujuan: menyampaikan permohonan maaf secara langsung dan terbuka kepada Ketua PN Manado, Bapak Achmad Peten Sili, S.H., M.H.
Permintaan maaf ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah pengakuan tulus atas pemberitaan sebelumnya yang dianggap telah mencoreng kehormatan pribadi dan profesional seorang hakim sekaligus pimpinan institusi yudikatif. Lebih dari itu, langkah ini menunjukkan bagaimana seorang wartawan bisa menyatukan keberanian, kerendahan hati, dan tanggung jawab moral di tengah sorotan publik dan tekanan profesi. Momen Langka yang Menjadi Cermin Peradaban.
Langkah Steven dinilai banyak pihak sebagai refleksi kedewasaan dalam berbangsa dan berdemokrasi. Ia tidak hanya mempertaruhkan reputasinya sebagai jurnalis, tapi juga menunjukkan bahwa profesi wartawan bukan tempat untuk ego pribadi, melainkan wadah memperjuangkan kebenaran dengan kejujuran dan keadilan.
Langkah ini juga menuai apresiasi luar biasa dari pihak Pengadilan Negeri Manado. Humas PN Manado, Hakim Ronald Massang, S.H., M.H., menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Steven dan cara media menyampaikan berita ini adalah wujud dari jurnalisme berkualitas tinggi—yang bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memperkuat nilai-nilai etika dan moral.
“Pemberitaan ini sangat cerdas, obyektif, dan sarat dengan pesan moral. Ini yang kami harapkan dari media: menjadi mitra konstruktif dalam menjaga marwah hukum dan kebenaran. Terima kasih banyak,” ujar Hakim Ronald Massang dalam pernyataan resminya kepada media, yang disampaikan melalui pesan tertulis. Pers dan Hukum: Bukan Musuh, Tapi Pilar yang Saling Menguatkan
Peristiwa ini menyampaikan pesan besar ke seluruh penjuru negeri bahwa media dan lembaga peradilan tidak harus berada dalam posisi saling mencurigai, apalagi bermusuhan. Justru keduanya memiliki peran saling menguatkan dalam menegakkan demokrasi, keadilan, dan kebenaran hukum.
Sebagaimana disebutkan oleh beberapa pengamat komunikasi publik, insiden ini menjadi preseden positif nasional, karena menunjukkan bahwa klarifikasi bukanlah kelemahan, tetapi bentuk keberanian dan tanggung jawab. Media tidak kehilangan martabat karena meminta maaf—sebaliknya, justru semakin dipercaya oleh publik karena bersikap transparan dan beretika. Etika di Atas Segalanya.
Sikap yang ditunjukkan oleh Steven dan didukung oleh redaksi medianya adalah bukti bahwa etika masih menjadi kompas utama dalam dunia jurnalistik. Di saat banyak media tergelincir dalam pusaran clickbait dan narasi provokatif tanpa verifikasi, langkah ini menjadi angin segar yang membangkitkan kembali semangat jurnalistik yang mencerahkan, bukan membakar.
Dan yang lebih membanggakan, Pengadilan Negeri Manado menunjukkan sikap terbuka, tidak defensif, bahkan memberikan ruang untuk dialog dan penyelesaian yang beradab. Ini adalah wajah peradilan modern: kuat dalam prinsip, namun lembut dalam pendekatan. Penutup: Pelajaran Bagi Bangsa.
Lebih dari sekadar headline, momen ini menjadi pelajaran penting bagi semua kalangan: bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan keberanian untuk mengoreksi, serta kelembutan hati untuk memaafkan. Bahwa kesalahan bukan akhir segalanya, selama masih ada niat baik untuk memperbaiki.
Untuk para jurnalis, aparat hukum, mahasiswa hukum, dosen komunikasi, dan seluruh rakyat Indonesia, peristiwa ini bisa dijadikan teladan: tentang bagaimana kita seharusnya bersikap di tengah era disrupsi informasi. Sebuah kisah yang patut diangkat, didiskusikan, dan diwariskan. Manado telah mencatat sejarah kecil dengan dampak besar. Dan semuanya dimulai dari satu langkah sederhana: keberanian untuk berkata, “Maaf.”
(Ditulis oleh: Zulkifli Abidjulu – Editor Senior GlobalNewsNusantara.ID)








