BOLTIM — GlobalNewsNusantara.ID Suasana di Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) Desa Tobongon, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), mendadak memanas. Warga dan penambang tradisional setempat geram setelah mengetahui adanya aktivitas alat berat jenis excavator yang beroperasi di kawasan tambang rakyat tersebut.
Satu unit alat berat excavator diduga milik seorang oknum bernama Fani, terlihat bebas mengeruk tanah dan memporak-porandakan area perbukitan di WPR Tobongon. Padahal, wilayah ini selama puluhan tahun dikenal sebagai “Wisata Tambang Emas Tobongon” yang hijau, lestari, dan menjadi contoh tambang rakyat ramah lingkungan di Boltim.
“Kami sangat kecewa. Excavator itu jelas-jelas merusak hutan WPR. Padahal dari dulu kami menambang di sini secara manual, menggali dengan tangan dan alat sederhana. Kami tetap menjaga kelestarian hutan Tobongon agar tidak rusak seperti daerah lain,” ujar sejumlah penambang yang ditemui di lokasi, Rabu (8/10/2025).
Warga menilai, tindakan oknum tersebut mencoreng semangat gotong royong dan tradisi tambang rakyat yang sudah turun-temurun dijaga oleh masyarakat Tobongon. “Kalau dibiarkan, WPR Tobongon bisa hancur seperti Desa Lanut, yang rusak parah akibat bebasnya alat berat masuk ke area tambang,” tegas mereka.
Para penambang meminta aparat kepolisian, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa untuk segera turun tangan menghentikan aktivitas alat berat di wilayah tersebut. “Jangan sampai kami sendiri yang bertindak. Kami selama ini komitmen tidak pakai alat berat. Kalau semua ikut-ikutan, habislah hutan Tobongon,” kata mereka.
Pantauan awak media di lapangan, tampak kerusakan hutan di area WPR Tobongon akibat aktivitas alat berat. Jalan selebar beberapa meter tampak baru dibuka, dan terlihat pula pembuatan bak rendaman di sekitar lokasi. Excavator berwarna kuning yang diduga milik oknum Fani masih berada di area tersebut saat wartawan mendatangi lokasi.
“Jangan karena punya beking kuat, lalu seenaknya masuk dan merusak kawasan WPR. Kami sudah puluhan tahun menambang manual tanpa pernah pakai alat berat. Kami ingatkan, jangan hancurkan hutan Tobongon,” ujar salah satu tokoh penambang dengan nada tegas.
Hingga berita ini diterbitkan, tim media masih berupaya mengonfirmasi kepada oknum Fani yang diduga sebagai pemilik excavator untuk meminta klarifikasi terkait aktivitas pertambangan di kawasan WPR Tobongon.(Kif)








